Posted by Riza Rahmah Angelia in
Creative Writing
0
komentar
“Satu!”
“Dua!”
“Nol!”
Nol
yang disebutkan, sama persis dengan keadaan jari yang tersisa. Melihat tak ada
jari yang berdiri, Danti pun senang buatnya. Danti dapat terbebas dari coretan
spidol meskipun sudah ada beberapa yang menghiasinya. Untuk kesekian kali dia
mengakhiri permainan ini dengan tebakkan yang jitu.
Entah
apa namanya, permainan ini begitu sering dimainkan Danti dan teman-temannya. Saat
ada waktu kosong, cukup membentuk lingkaran, dan permainan pun dimulai. Hingga
kini, saat dia duduk di bangku kelas tiga, permainan ini masih mendarah daging,
dan tentu saja menciptakan berbagai cerita dibalik serunya permainan ini.
“Dan,
jam berapa sekarang?” Tanya Tika, teman dekat Danti.
“Jam
tiga, Tik. Eh berarti kita ngelewatin bel terakhir lagi ya?”
“Udah
enggak heran lagi, Dan. Ngomong-ngomong pulang yuk! Aku capek.”
“Iya,
aku juga,” jawab Danti, lalu dia pun beralih pada teman-temannya yang masih
asyik bermain, “Semuanya, aku sama Tika pulang duluan ya, kita capek dan udah
sore juga.”
Semua
mengiyakan, dan terdengarlah suatu suara yang nyaring dari lingkaran permainan
itu, “ikut! Tapi kita ke kamar mandi dulu ya? Lihat deh mukaku, coretan
spidolnya berhasil nutupin mukaku.” Begitu ekspresif teman Danti yang satu ini
menunjukan mukanya yang penuh coretan spidol. Jani, itulah namanya.
Tiga
gadis ini menyusuri koridor menuju kamar mandi perempuan yang tak terlalu jauh
dari kelas mereka. Sore itu, sekolah tidak begitu ramai seperti biasanya,
begitu pula dengan kamar mandi perempuan yang mereka masuki. Hanya ada mereka
bertiga yang menghadap ke sebuah cermin besar dan berdiri di depan wastafel
yang ada.
“Dan,
Tik, seru banget ya tadi permainannya.” Jani memulai pembicaraan dengan
sejumlah air yang sudah ada di tangannya untuk membasuh mukanya yang kotor.
“Iya,
dan seperti biasa, mukamu banyak coretannya, Jan! Hahaha.” LedekTika dengan
tawaan yang puas sambil terus membasuh.
“Ah
kamu Tik, lihat deh mukamu! Enggak kalah jeleknya sama mukaku sekarang, malah
lebih menakutkan.”
“Tapi
aku cuma kalah dua kali, dan kamu, Jan? Empat kali, jadi tetap aku juaranya.”
“Lihat
Danti! Sedikit coretan, muka masih bisa dikenali, berarti dia pemenangnya, dia
‘kan Cuma kalah satu kali.”
“Danti...
Ada apa? Kenapa diam saja?” Tanya Tika terheran-heran, “bukannya kamu cuma
kalah satu kali ya? Harusnya kamu senang dong.”
Suasana
menjadi sepi mencekam, berbanding terbalik saat Tika dan Jani memulai
pembicaraan. Semua terdiam sejenak, semua menatap Danti yang tak bisa melepaskan
aksen sedihnya.
“Kalian benar tetap mau jadi
pengacara dan perancang busana?”
“Iya, aku suka sekali hal yang
berbau fashion, aku pengen suatu hari
nanti aku bisa ngeracang busana buat para artis.” Jelas Tika singkat.
“Aku
tetap mau jadi pengacara, kalau melihat Ayah, aku jadi pengen cepat-cepat jadi
pengacara yang profesional. Ayah memang keren.” Sekali lagi, begitu Jani begitu
ekspresif mengutarakan keinginannya ini.
“Apa
kalian enggak berpikir bagaimana jadinya kita kalau kita terpisah? Kenapa
kalian enggak masuk kedokteran aja? Waktu SMP kalian bilang kalau kalian mau
jadi dokter, sekarang?”
“Maksud
kita bukan untuk menghianati kamu, kita baru sadar kalau minat dan bakat kita
bukan di bidang kesehatan. Kita punya minat dan bakat masing-masing, Dan.”
“Ayolah,
apa kalian kurang biaya makanya kalian enggak milih kedokteran? Aku bisa
usahain kok ke Ayah.”
“Bukan
masalah biaya, tapi minat dan bakat kita bukan disitu, Dan. Kita enggak mau
milih hal yang enggak sejalan sama hati kita.” Tekan Tika.
“Iya,
Dan, di sisi lain, selain untuk cita-cita, bangku kuliah juga tempat yang
ditunggu-tunggu karena semua materinya bakal sejalan dengan hati, enggak ada
materi yang enggak kamu sukai muncul di bangku kuliah, makanya kita harus milih
jurusan dengan minat dan bakat kita. Itu sih pemikiranku.” Jelas Jani.
Air
keran masih terus mengalir. Danti, Tika, dan Jani masih tetap membasuh muka
mereka dengan air itu, masih kotor, begitulah kesan muka mereka.
“Tapi
aku enggak mau berpisah sama kalian, kita sudah lama bersama sampai masuk kelas
yang sama hingga akhir SMA ini. Aku takut, aku takut enggak bisa menemukan
teman seperti kalian, aku takut kita enggak bisa main bareng lagi kaya
biasanya, aku takut saat kuliah nanti, aku enggak bisa jadi diri sendiri, aku
takut enggak ada yang bisa menerima aku apa adanya.” Matanya mulai
berkaca-kaca, bendungan air masih bisa
ditahan, dalam matanya, Danti menatap dalam-dalam air keran yang mengucur deras
didepannya.
“Danti,
sejauh apapun kita, kita masih bisa temenan kok, kita punya waktu banyak,
lagipula masih ada liburan kok yang bisa kita manfaatin untuk kumpul bareng.
Kita juga bisa webcamming, chatting, kalau kita mau kita juga bisa
surat-suratan, biar lebih romantis.”
“Ih,
Jani! Tapi Jani benar juga loh, Dan. Sekarang juga ada Facebook, Twitter, Kita
masih bisa komunikasi dan tetap jadi teman.”
Badannya berbalik membelakangi wastafel yang kini
Danti tutup keran airnya dan bersender pada wastafel itu, sudah cukup bersih
mukanya kini, tapi tidak untuk kedua temannya, berbagai coretan masih menghiasi
muka mereka, tapi itu bukan masalahnya sekarang.
“Tik,
Jan, aku enggak mau kehilangan kalian, aku enggak mau perpisahan SMA ini
benar-benar memisahkan kita. Aku takut.”
Tetesan air mata mulai berjatuhan menuruni pipi yang lembut. Terkadang terasa
asin karena tetesan itu sampai di bibir.
Semua
melangkah merangkul Danti, tetesan air mata tidak hanya keluar dari mata Danti
saja, sosok Jani yang terlihat selengean pun meneteskan air matanya, ya, Tika
dan Jani menangis.
“Aku
janji Dan, perpisahan SMA ini enggak bakal bisa memisahkan kita, sejauh apa pun
kita. Begitu juga dengan Jani, ya ‘kan?” Janji itu dihiasi aksen sedu
berulang-ulang kali.
“Iya,
kita juga enggak bakal berubah, kita bakal jadi kita yang sekarang, dan selalu
jadi diri kita. Suatu hari nanti, kita bakal bertemu menjadi sosok yang kita
inginkan, kita akan bertemu sebagai pengacara, perancang busana, dan dokter
yang sukses. Jadi kita enggak harus selalu bersama, toh orang yang selalu
bersama bukan berarti orang itu dekat satu sama lain ‘kan?”
“Jani...
Kok aku baru tahu kalau kamu bisa bijaksana?”
Celotehan
Danti itu menjadi senyum pembuka diantara mereka. Semua pun tertular oleh senyuman
Danti yang khas itu. Semua tersenyum sambil mengusap air mata yang membasahi
pipi masing-masing. Sekarang, mereka saling bertatapan, dan... Tawaan yang puas
kembali terdengar lagi. Ternyata muka Tika dan Jani masih banyak coretan.
Dengan segera mereka membalikkan badan, membuka keran, dan membasuh secepat
mungkin. Selagi Tika dan Jani sibuk membersihkan muka mereka, Danti sibuk
dengan kata-kata.
“Tika,
Jani, maaf ya tadi aku maksa kalian, maaf banget kalau omongan aku tadi
nyakitin hati kalian, kaya kalian bisa dibeli saja. Padahal kalian ‘kan berhak
buat nentuin jalan kalian sendiri, maaf ya?”
Langsung
saja Tika dan Jani menjawab ya dan memaafkan Danti bersamaan dengan sibuknya
mereka untuk menghilangkan coretan di muka, suara yang mereka keluarkan
terdengar aneh, sehingga mengundang senyuman kecil pada Danti. Beberapa menit
setelah itu, satu persatu muka Tika dan Jani mulai benar-benar bersih.
Sore
itu sebuah janji keluar di antara mereka bahwa tak akan ada perpisahan di dunia
ini yang memisahkan mereka. Langkah kaki keluar kamar mandi mengakhiri sebuah
ketakutan salah satu diantara mereka. Memasuki kelas yang sudah sepi, mengambil
tas dan jalan bersama menuju rumah masing-masing.
(Dita Sesylia F.)









